Informasi

PENGARUH BAHASA ARAB DAN PENGGUNAANYA DI INDONESIA OLEH: MOCH. IQBAL, LC.

  1. PENGARUH BAHASA ARAB

Sebagaimana dipahami bersama bahwa bahasa Arab adalah salah satu bahasa resmi internasional dan merupakan salah satu bahasa yang paling berpengaruh di dunia. Hal ini dikarenakan jumlah ummat Islam yang sangat besar yang tersebar di seluruh dunia, bahkan Islam sekarang tidak hanya tersebar luas di benua Asia dan Afrika saja namun juga telah berkembang di benua-benua lainnya. Ini menunjukkan bahwa bahasa Arab telah tersebar ke seluruh penjuru dunia, tanpa terkecuali.

Bahasa Arab adalah bahasa Kalam Ilahi dan bahasa penghuni surga, oleh karenanya orang-orang muslim memiliki kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri dalam mempelajarinya. Jika seorang muslim ingin mempelajari dan memperdalam ilmu-ilmu Islam, maka sebaiknya harus dibekali dengan kemampuan dalam bahasa Arab karena hampir semua buku dan kitab yang menjadi referensi dan acuan dalam agama Islam adalah berbahasa Arab.

Meskipun bahasa Arab identik dengan bahasa agama Islam, namun ternyata bahasa Arab tidak hanya dipelajari oleh orang-orang muslim saja, akan tetapi juga sudah mulai digemari oleh orang-orang non-muslim. Salah satu contohnya adalah di kampus Kulliyah Da’wah Islâmiyah, Tripoli Libya, sering kedatangan rombongan mahasiswa dari negara Jepang, Italia, Prancis dan lainnya dalam rangka mengikuti program pembelajaran bahasa Arab. Ada yang mengikuti program selama sebulan, bahkan ada yang mengikuti program selama satu tahun. Ini menunjukkan bahwa bahasa Arab sudah menjadi salah satu bahasa yang paling penting dan paling berpengaruh di dunia.

Di Indonesia sendiri, sejak jaman dahulu bahasa Arab sudah masuk ke Indonesia seiring masuknya agama Islam ke bumi pertiwi ini. Terlebih lagi mayoritas penduduk Indonesia merupakan penganut agama Islam atau muslim, sehingga bahasa Arab berkembang luas. Bahasa Arab dipelajari di lembaga-lembaga pendidikan baik fomral maupun non-formal seperti di pesantren-pesantren, di sekolah-sekolah, di kampus-kampus, maupun diajarkan secara personal oleh para ustadz. Bahkan hampir di seluruh pesantren, bahasa Arab tidak tidak hanya dipelajari saja, tapi juga dipraktekkan dalam percakapan sehari-hari oleh para ustadz dan santri-santrinya. Sedangkan dalam tataran kampus, sudah dilakukan kajian-kajian dan pengembangan dalam hal linguistik dan sastra Arab. Banyak juga buku-buku yang ditulis dan diterbitkan yang berkaitan dengan ilmu bahasa Arab dan cabang-cabangnya.

Bahasa Arab memiliki pengaruh yang besar terhadap para pelajar Islam, oleh karenanya bahasa Arab tidak hanya dipelajari oleh para penuntut ilmu yang sekolah atau kuliah di sekolah dan kampus berlabel Islam saja, akan tetapi banyak juga mahasiswa yang nota bene dari jurusan umum seperti teknik, psikologi dan lain-lain, ikut mempelajari bahasa Arab.

 

  1. PENGAJARAN BAHASA ARAB DI INDONESIA

Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa bahasa Arab di Indonesia diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan baik yang formal maupun non-formal. Di pesantren-pesantren, bahasa Arab diajarkan secara intensif dengan beberapa cabang ilmunya seperti Nachwu, Sharf, Balâghah dan lain-lainnya, juga diaplikasikan dalam percakapan sehari-hari. Di sekolah-sekolah Islami non-pesantren juga bahasa Arab diajarkan, namun masih sebatas pada bahasa Arab dasar dan tidak ada keharusan untuk mengaplikasikannya dalam percakapan sehari-hari. Di kampus-kampus Islami juga bahasa Arab diajarkan pada kaidah-kaidah yang masih dasar dan mudah untuk dipahami. Akan tetapi di beberapa jurusan bahasa atau sastra Arab sudah mulai dikembangkan pada kajian linguistik maupun sastra Arab, sehingga banyak hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan ilmu bahasa Arab. Di beberapa kampus Islami juga ternyata bahasa Arab tidak hanya diajarkan kaidah-kaidahnya, akan tetapi juga menjadi bahasa pengantar dalam pembelajaran di kelas dan di luar kelas seperti ma’had-ma’had AMCF, LIPIA Jakarta dan lain sebagainya.

Selain di lembaga-lembaga yang disebutkan tadi, bahasa Arab juga diajarkan secara kelompok maupun personal, baik melalui lembaga kursus, privat, maupun diajarkan oleh para ustadz. Ghirrah atau semangat mempelajari bahasa Arab di Indonesia sangat besar, maka seiring berjalannya waktu bahasa Arab menjadi bahasa yang digandrungi oleh para remaja Islam, bahkan oleh para orang-orang yang sudah pensiun atau sudah tua sekalipun.

 

  1. PENGGUNAAN BAHASA ARAB DI INDONESIA SECARA PRAKTIS

Berbicara tentang penggunaan Bahasa Arab di Indonesia secara praktis, atau aplikasinya dalam percakapan sehari-hari, maka kita bisa menilainya dari sisi fashâchah-nya (jelas dan sesuai kaidah). Kita menemukan tidak sedikit penggunaan bahasa Arab terpengaruh oleh bahasa Indonesia, terutama di kalangan para santri di pesantren-pesantren. Ungkapan-ungkapan semisal “lâ mâdza-mâdza” (tidak apa-apa) atau “maujûd-maujûd faqath” (ada-ada saja) merupakan segelintir contoh dari kesalahan dalam penggunaan bahasa Arab di pesantren. Sebetulnya jika ditilik secara kata per-kata contoh tersebut tidaklah salah, akan tetapi jika digabungkan secara keseluruhan maka hal itu menjadi tidak tepat dan tidak akan dipahami oleh orang Arab aslinya, karena ungkapan tersebut tidak ada dalam kehidupan mereka. Ungkapan yang tepat dalam bahasa Arab untuk ungkapan “tidak apa-apa” adalah “lâ baˋsa” atau bisa juga “laisa musykilah”. Sedangkan ungkapan “ada-ada saja” pada dasarnya adalah menunjukkan respon pada sesuatu yang dianggap bercanda atau sesuatu yang tidak biasa, maka dapat di-bahasa-Arab-kan menjadi “laqad mazahta” (becanda aja kamu) atau bisa juga menjadi “hâdzaâ syaiˋun jadîd” (ini sesuatu yang baru).

Ketidak-tepatan penggunaan ungkapan-ungkapan seperti ini dalam bahasa Arab tentunya akibat terpengaruh oleh bahasa Indonesia, atau lebih tepatnya terpengaruh oleh bahasa Indonesia yang dipakai sehari-hari. Penyebab lainnya adalah bisa jadi dari kurangnya pemahaman terhadap kaidah bahasa Arab dan pengetahuan tentangnya, atau bisa juga karena ungkapan-ungkapan seperti itu sudah nge-trend di kalangan para santri.

Meskipun demikian, tentunya banyak juga pesantren dan kampus bahasa Arab yang berusaha untuk mempraktekkan bahasa Arab dengan benar sesuai kaidah-kaidahnya, seperti di ma’had-ma’had AMCF, LIPIA Jakarta, Ar-Rayah Sukabumi dan lain-lainnya. Ini menunjukkan bahwa bahasa Arab akan tetap terjaga orisinalitas atau keasliannya, walaupun mungkin pada tahap pemula dari para pelajar masih banyak yang tidak tepat secara makna maupun secara kaidah namun seiring berjalannya waktu dan penambahan pelajaran akan membuat mereka menjadi lebih baik dan lebih benar dalam penggunaannya.

Maka, hal ini menjadi perhatian bersama bagi para pengajar dan pendidik bahasa Arab agar lebih menitik-beratkan kepada penggunaan yang tepat dalam percakapan sehari-hari, karena orang yang faham bahasa Arab secara teoritis belum tentu secara praktis dapat mempraktekkannya dalam percakapan secara lisan. Wallâhu a’lam.